SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1442 H/2021 M, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Humas ║Penulis: Ato’ Farid ║Editor: Tristi Munawaroh ║ 11 Mei 2021

Parakan, Temanggung – Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 Hijriyah/13 Mei 2021 Masehi kembali datang. Ajang silaturrohim nasional kembali datang dan pesta makan siap digelar. Masih dalam situasi pandemi covid, tetaplah memperhatikan protokol kesehatan ya !

Asal usul Hari Raya

Ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri disyari’atkan pada tahun pertama bulan hijriyah, namun baru dilaksanakan pada tahun kedua Hijriyah. Pada masa Rasulullah SAW, di sebuah kota yang terletak di Madinah ada dua hari yang di dalamnya terdapat kaum-kaum Yasyrik yang menggunakan dua hari tersebut dengan berpestapesta dan bersenang-senang semata, yang terkesan lebih berfoya-foya. Ke-dua hari tersebut dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan dan konon hari itu sudah ada sejak zaman Jahiliyah dulu sehingga menjadi sebuah tradisi yang melekat pada orang Madinah kaum Yasyrik. [1]

Perayaan Idul Fitri sejatinya, asal-muasalnya tidak hanya lahir dari latar historis kemenangan Badar. Dalam ‘Ensiklopedi Islam‘ disebutkan, bahwa jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Arab sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan, keduanya berasal dari zaman Persia Kuno. Biasanya, mereka merayakan kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Seiring turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada tahun ke-2 Hijriah itulah, turun kemudian hadis Nabi, “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha”. [2]

Digantilah dengan dua hari raya yang lebih baik, beradarkan hadis berikut.

  1. Hadits Sunan Abu Daud Nomor 959

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Terjemahan Hadits: “Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Humaid dari Anas dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki dua hari khusus untuk permainan, maka beliau bersabda: “Apakah maksud dari dua hari ini?” mereka menjawab; “Kami biasa mengadakan permainan pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari (raya) kurban (Idul Adha) dan hari raya Idul Fithri. [3]

2. Hadits Musnad Ahmad Nomor 11568 [4]

3. Hadits Musnad Ahmad Nomor 13131 [5]

Makna Idul Fitri

Makna kata فِطْر secara leksikal adalah tidak berpuasa. Kata ini diambil dari kata فَطر yang berarti terbuka, permulaan dan penciptaan. Kata انْفَطَرَتْ pada firman Allah surah al-Infithar ayat 1″apabila langit terbelah” berasal dari akar kata ini. Begitu juga dikatakan bahwa تَفَطَّرَتْ dan اِنْفَطَرَتْ memiliki satu arti. Dan, اِفْطَار dan الفِطْرِ عِيْدُ juga berasal dari akar kata ini karena orang-orang yang berpuasa akan membuka puasanya pada waktu maghrib dan hari raya Idul Fitri. [6]

Arti Idul Fitri secara Bahasa berasal dari dua kata; id [ arab: عيد ] dan al-fitri [ arab: الفطر ]. Id secara bahasa berasal dari kata ‘aada – ya’uudu [ arab: عاد – يعود ], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [ arab: أفطر – يفطر ], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan. [7]

Di kamus “Al-Munawwir Arab–Indonesia”, al fith-ru (الفطر) adalah kasru ash-shawmi, yang artinya hal buka puasa. Selain fith-run, buka puasa disebut juga ifthâr (sighat mashdar dari afthara – yufthiru). Senada dengan hal tersebut, makan pagi yang dalam bahasa Inggris kita kenal dengan istilah breakfast (menghentikan puasa), dalam bahasa Arab disebut futhûr. Dengan demikian, IdulFitri (عيدالفطر) berarti hari raya berbuka atau makan. Berdasarkan uraian tersebut, Idul Fitri dapat diterjemahkan sebagai hari raya dimana umat Islam wajib berbuka atau makan. [8]

Idul Fitri  artinya kembali makan pagi (sarapan). Fithri berasal dari kata futhur dalam bahasa Arab yang artinya sarapan. Jadi, Selamat Idul Fitri artinya Selamat Anda sudah kembali bisa sarapan atau makan pagi, tidak puasa lagi. Idul Fitri juga dimaknai sebagai “kembali ke fitrah” atau “kembali kepada kesucian”. Makna ini kurang tepat secara harfiyah karena jika kembali ke fitrah maka istilahnya “idul fitrah”, bukan “idul fitri”. [9]

Berbeda dengan lafal “fitroh” seperti Hadits Shahih Bukhari Nomor 1296 Kitab: Jenazah Bab: Pembicaraan tentang keberadaan mayit dari anak-anak kaum musyrikin.

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

Terjemahan Hadits: “Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza’bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya?” [10]

Ucapan Hari Raya Idul Fitri

Di Indonesia sering mengucapkan doa Minal ‘Aidin wal-Faizin , sebenarnya itu adalah tradisi masyarakat Asia Tenggara. Menurut sebagian besar ulama ucapan tersebut ditidaklah berdasar dari ucapan dari Nabi Muhammad saw. Perkataan ini mulanya berasal dari seorang pensyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita pada hari raya. Adapun ucapan yang disunnahkan ialah “Taqabbalallahu minna wa minkum/semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian”. [11]

Bagaimana seharusnya yang ucapan tahni’ah yang tepat? Jika kita membaca literature, memang kita menemukan tradisi di kalangan para sahabat Nabi, yakni mengucapkan selamat (tahni’ah) kepada sesama umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan puasa Ramadlan. Bunyi bacaan selamatnya adalah “taqabbalallaahu minnaa wa minkum”, namun ada pula yang menambahnya “taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidiin wal faaiziin”. Ada pula yang masih menambahnya “wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair”. [12]

Referensi:

  1. http://malahayati.ac.id
  2. https://islami.co
  3. https://hadits.net
  4. https://hadits.net
  5. https://hadits.net
  6. https://id.wikishia.net
  7. https://konsultasisyariah.com
  8. https://www.nu.or.id
  9. https://www.risalahislam.com
  10. https://hadits.net
  11. https://id.wikipedia.org
  12. https://www.nu.or.id

Akhir kata, wallahu a’lam, semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT dan mari mari bersama lawan covid. (af_20.50 )


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *